![]() |
Oleh : Ariady Achmad dan Tim
Minggu : 5 April 2025
Pada 28 Februari 2026, rudal menghantam Teheran. Di layar televisi, publik disuguhi bahasa yang telah lama akrab dalam setiap perang: pertahanan diri, stabilitas kawasan, ancaman nuklir.
Namun, di balik dentuman itu, ada suara lain yang tak pernah benar-benar disiarkan—suara kepentingan.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran bukan sekadar operasi militer. Ia adalah manifestasi dari sebuah sistem global, tempat perang tidak selalu lahir dari ancaman nyata, melainkan dari kebutuhan untuk mempertahankan dominasi.
Di dalam sistem itu, konflik bukan semata-mata akibat. Ia sering kali menjadi alat.
*Ancaman yang Dibentuk, Bukan Sekadar Ditemukan*
Sejak puluhan tahun lalu, Iran ditempatkan sebagai “ancaman global”. Citra itu tidak muncul secara tiba-tiba, juga tidak lahir semata-mata dari tindakan Iran sendiri. Ia dibentuk perlahan, diproduksi terus-menerus, lalu dipelihara melalui bahasa politik dan media.
Narasi tentang Iran dibangun lewat laporan kebijakan, framing media, tekanan diplomatik, hingga pernyataan para elite yang terus mengulang pesan serupa: Iran berbahaya, Iran agresif, Iran harus dibatasi.
Di Washington, kelompok lobi seperti American Israel Public Affairs Committee memainkan peran penting dalam memastikan isu Iran tetap berada di pusat perhatian politik Amerika. Setiap perkembangan di Teheran diperlakukan sebagai ancaman yang mendesak, seolah tidak ada ruang untuk membaca realitas secara lebih kompleks.
Pertanyaannya bukan apakah Iran sama sekali tidak berbahaya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa jauh persepsi tentang bahaya itu diproduksi, diperbesar, dan digunakan?
Dalam politik internasional, ancaman tidak selalu ditemukan. Kadang-kadang, ia dibentuk.
*Industri Perang: Bisnis yang Tak Pernah Rugi*
Perang selalu melahirkan korban. Kota hancur, warga sipil mengungsi, dan generasi kehilangan masa depan. Namun bagi sebagian pihak, perang juga berarti keuntungan.
Di jantung ekosistem ini berdiri perusahaan-perusahaan pertahanan raksasa seperti Lockheed Martin, Raytheon Technologies, dan Northrop Grumman. Ketika konflik meningkat, pesanan rudal bertambah. Ketika ketegangan memuncak, kontrak senjata diperpanjang. Ketika perang pecah, harga saham menguat.
*Setiap eskalasi adalah peluang bisnis* .
Logikanya sederhana tetapi mengerikan: semakin besar ancaman, semakin besar kebutuhan akan senjata. Dan semakin besar kebutuhan akan senjata, semakin besar keuntungan yang mengalir.
Dalam kerangka seperti itu, perdamaian tidak lagi menjadi prioritas utama. Perdamaian justru tampak seperti anomali—sesuatu yang baik secara moral, tetapi merugikan secara ekonomi bagi industri tertentu.
*Ketika Uang Mengalir, Kebijakan Mengikuti*
Di negara demokrasi modern, pengaruh tidak selalu dibeli secara ilegal. Ia sering hadir dalam bentuk yang sah dan terlihat normal: pendanaan kampanye, jaringan donor, dukungan politik, akses eksklusif, hingga kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Di titik inilah hubungan antara politisi, korporasi, dan kelompok kepentingan menjadi sulit dipisahkan.
Keputusan politik tidak lagi berdiri di ruang hampa. Ia dibentuk oleh siapa yang mendanai, siapa yang memengaruhi, dan siapa yang diuntungkan.
Think tank seperti Council on Foreign Relations dan Brookings Institution memainkan peran penting dalam proses ini. Mereka memproduksi wacana, menerbitkan analisis, mengisi forum-forum kebijakan, lalu membantu membentuk cara publik memahami dunia.
Dari ruang-ruang itulah lahir definisi tentang siapa musuh, apa ancaman, dan mengapa perang dianggap perlu.
Semua terdengar rasional. Semua dibungkus dalam bahasa akademik dan keamanan nasional. Namun pertanyaan yang tak pernah benar-benar dijawab adalah: siapa yang menentukan rasionalitas itu?
Revolving Door: Ketika Negara dan Korporasi Menjadi Satu
Di Pentagon, fenomena revolving door bukan rahasia. Pejabat publik keluar dari pemerintahan, lalu bekerja di industri pertahanan. Sebaliknya, eksekutif perusahaan senjata masuk ke lingkaran kekuasaan dan ikut menentukan kebijakan.
Akibatnya, batas antara negara dan korporasi menjadi semakin kabur.
Orang yang kemarin memutuskan pembelian senjata, hari ini bekerja untuk perusahaan yang menjualnya. Orang yang dulu memimpin perusahaan pertahanan, besok duduk di meja pengambilan keputusan negara.
Hubungan semacam ini melahirkan simbiosis yang sulit diputus.
Dalam kondisi seperti itu, keputusan untuk berperang tidak lagi sepenuhnya berdiri sebagai keputusan politik yang netral. Ia menjadi bagian dari sebuah ekosistem kepentingan—tempat kekuasaan dan keuntungan berjalan beriringan.
*Israel, Iran, dan Politik Ketergantungan*
Hubungan Amerika Serikat dan Israel selama ini kerap dipahami sebagai aliansi strategis. Namun di balik istilah itu, terdapat lapisan yang jauh lebih rumit: kepentingan domestik, tekanan politik, jaringan donor, serta kalkulasi elektoral.
Dukungan Amerika terhadap Israel tidak semata-mata lahir dari pertimbangan geopolitik. Ia juga menjadi bagian dari politik dalam negeri Amerika sendiri.
Bagi banyak politisi di Washington, mendukung Israel berarti menjaga dukungan dari kelompok lobi, donor besar, dan basis politik tertentu. Di sisi lain, mempertahankan Iran sebagai “musuh permanen” juga memiliki fungsi politik yang tidak kecil.
Iran memberi alasan untuk memperluas anggaran militer, mempertahankan kehadiran di Timur Tengah, dan menjaga narasi bahwa dunia masih membutuhkan kepemimpinan Amerika.
Dengan kata lain, Iran tidak hanya diposisikan sebagai lawan. Ia juga dibutuhkan sebagai lawan.
*Ketika Kekerasan Dilegalkan*
Dunia sering mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan demi tujuan politik.
Namun bagaimana jika kekerasan yang sama dilakukan oleh negara?
Ketika rudal menghantam infrastruktur, ketika warga sipil menjadi korban, ketika ancaman digunakan untuk menanamkan rasa takut dan memaksa kepatuhan politik, bukankah mekanismenya tetap serupa?
Perbedaannya hanya satu: negara memiliki legitimasi.
Ia memiliki hukum, militer, diplomasi, dan bahasa resmi yang membuat tindakannya tampak sah. Apa yang disebut “operasi militer” oleh negara, sering kali memiliki dampak yang tidak berbeda jauh dengan teror: ketakutan, kehancuran, dan trauma.
Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya siapa yang melakukan kekerasan, tetapi siapa yang diberi hak untuk mendefinisikan kekerasan itu.
*Deep System: Arsitektur Kekuasaan Global*
Istilah deep state sering kali diperdebatkan dan dipenuhi teori konspirasi. Namun yang lebih relevan untuk dibicarakan adalah apa yang bisa disebut sebagai deep system.
Deep system bukan kelompok rahasia yang bertemu di ruang gelap. Ia adalah jaringan yang nyata dan bekerja setiap hari: negara, korporasi, lembaga keuangan, think tank, media, dan aktor politik yang bergerak dalam arah yang sama.
Mereka mungkin tidak selalu bersekongkol secara terbuka. Mereka juga tidak selalu memiliki tujuan yang persis sama. Namun kepentingan mereka sering kali bertemu pada satu titik: mempertahankan kekuasaan dan memastikan keuntungan terus mengalir.
Dalam sistem seperti ini, konflik bukan kegagalan. Konflik justru dapat berfungsi sebagai mekanisme.
Perang membuka pasar. Krisis memperluas kontrol. Ketakutan membuat publik lebih mudah menerima kebijakan yang sebelumnya sulit dibenarkan.
Karena itu, yang sedang kita lihat bukan sekadar perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Yang sedang kita lihat adalah cara sebuah sistem bekerja.
*Dunia yang Dikelola oleh Kepentingan*
Perang Iran–Amerika–Israel 2026 memperlihatkan sesuatu yang selama ini sering disembunyikan di balik jargon diplomasi dan keamanan: dunia tidak hanya bergerak oleh nilai, hukum, dan moralitas. Dunia juga digerakkan oleh jaringan kepentingan yang rumit, terorganisasi, dan sering kali tak terlihat.
Dari ruang lobi hingga medan perang, pola yang muncul selalu serupa:
ancaman dibentuk, kebijakan disusun, konflik terjadi, keuntungan mengalir.
Maka pertanyaan terbesar hari ini bukan lagi apakah pola itu benar-benar ada.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah dunia masih memiliki keberanian untuk mengakuinya?
Ataukah kita akan terus hidup dalam ilusi bahwa semua ini hanyalah kebetulan sejarah?

.jpg)
