BIMA, TAROAINFO.Com – Kondisi yang sangat memprihatinkan kini menimpa aliran sungai di wilayah Desa Kole, Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima. Aliran air yang dulunya dikenal bersih, jernih, dan sangat asri, kini berubah wajah menjadi kawasan kumuh, berbau tak sedap, dan berwarna keruh hingga kehitaman. Perubahan drastis ini terjadi akibat ulah segelintir oknum warga yang menjadikan bantaran sungai tepat di bawah jembatan sebagai tempat pembuangan sampah rumah tangga secara sembarangan.
Fakta yang meresahkan ini disorot secara tegas oleh Anton, salah satu anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kole. Menurutnya, kondisi sungai yang kini tercemar parah oleh limbah plastik dan sampah rumah tangga tersebut, sangat bertolak belakang dengan keadaan beberapa tahun silam. Dulu, sungai ini merupakan sumber kehidupan sekaligus kebanggaan warga sekitar.
"Bagaimana tidak miris melihat kondisi ini? Dulu aliran sungai ini begitu asri, airnya jernih dan menyejukkan. Namun sekarang, semuanya berubah total karena tercemar tumpukan sampah plastik sisa rumah tangga," ungkap Anton dengan nada kecewa, Selasa (26/5).
Anton menjelaskan bahwa sungai tersebut memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan sosial masyarakat Desa Kole. Sejak lama, lokasi ini adalah pusat aktivitas warga: tempat ibu-ibu mencuci pakaian, mandi, hingga menjadi tempat bermain dan berenang yang menyenangkan bagi anak-anak desa setiap harinya. Namun, manfaat besar tersebut kini terancam hilang seiring dengan memburuknya kualitas air yang semakin parah.
"Tempat ini adalah nyawa kegiatan warga. Dulu anak-anak mandi dan bermain air di sini, ibu-ibu mencuci dengan nyaman di pinggirnya. Tapi sekarang? Airnya sudah berubah menjadi hitam pekat dan menimbulkan bau busuk yang sangat mengganggu, apalagi saat cuaca sedang panas," tambahnya.
Lebih mengkhawatirkan lagi, pencemaran yang terjadi tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mengancam keberlangsungan seluruh ekosistem di dalamnya. Sampah plastik yang sulit terurai secara alami bercampur dengan limbah organik yang membusuk, dikhawatirkan telah menyebarkan bakteri berbahaya yang perlahan mematikan kehidupan air.
"Kami sangat khawatir ikan-ikan dan makhluk hidup air lainnya akan punah. Perlu diketahui, sampah plastik tidak bisa diuraikan oleh tanah maupun air; ia hanya akan menumpuk dan melahirkan bibit penyakit. Jika dibiarkan, bukan hanya hewan air yang mati, tapi kesehatan warga yang masih terpaksa memanfaatkan air ini juga terancam bahaya," tegas Anton.
Hal yang membuat Anton dan masyarakat merasa sangat kecewa adalah sikap pemerintah terkait yang dinilainya seolah 'menutup mata' terhadap permasalahan nyata ini. Padahal, lokasi pembuangan sampah tersebut berada di titik yang sangat strategis, tepatnya di bawah jembatan Desa Kole, di jalur jalan raya lintas Bima–Wera, dan berada di sentra keramaian desa.
Artinya, pemandangan tumpukan sampah dan bau tak sedap itu terlihat serta tercium oleh siapa saja yang melintas setiap hari, namun seolah tidak ada perhatian berarti dari pihak berwenang.
"Saya mewakili masyarakat dan lembaga BPD sangat prihatin, sekaligus sangat berharap kepada pihak pemerintah terkait agar sama-sama mencarikan solusi atas permasalahan sampah yang sudah sangat serius ini. Tempat ini dilewati lalu-lalang kendaraan dan orang setiap hari, sangat terlihat jelas kondisinya, tapi seolah diabaikan. Apakah harus menunggu ada warga jatuh sakit atau sungai ini mati total baru ada tindakan nyata?" tanyanya menuntut tanggung jawab.
Menutup pernyataannya, Anton berharap sorotan ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah terkait untuk segera turun tangan. Ia meminta adanya langkah konkret mulai dari pembersihan total sungai, penegakan aturan tegas terkait pembuangan sampah, hingga sosialisasi kepada warga agar menjaga lingkungan dan tidak lagi membuang sampah ke aliran air.
Bagi Anton, menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama demi keberlangsungan hidup warga Desa Kole ke depannya.
"Sungai ini adalah aset kita bersama. Jangan sampai karena kelalaian dan ketidaktahuan sebagian orang, kita kehilangan sumber air yang sangat berharga ini selamanya," pungkas Anton.
*Ti-Red*

