Iklan


Iklan

Akademisi Sorot Walikota Langgar Prokes, Ketua ISNU: Kurang Kerjaan Saja

Editor
7/02/21, 02:04 WIB Last Updated 2021-07-01T18:04:08Z
Ketua PC ISNU Kota Bima, Muhammad Ardiansyah, ST. Foto, Dok:taroainfo.com


KOTA BIMA,TAROAINFO.COM.- Baru-baru ini Beredar video wali Kota Bima yang nyanyi tanpa menggunakan masker dan menuai perdebatan di tengah publik Kota Bima, hingga menggelitik kalangan akademisi untuk ikut mengomentarinya.


Ketua PC ISNU Kota Bima, Muhammad Ardiansyah, ST Menilai bahwa Apa yang menjadi sorotan itu sebenarnya hak siapapun untuk mengomentari, tetapi tentu saja harus dalam kaidah kesantunan dan kesopanan bernarasi. Tidak harus langsung menyerang dan menyudutkan kepala daerah seolah-olah telah melakukan tindakan kejahatan. Ada diksi-diksi pernyataan yang tidak boleh menghilangkan ciri pemikiran akademis. 


Ardiansyah mengatakan, apalagi Wali Kota sudah meminta maaf atas hal tersebut sebagai sesuatu yang tak sengaja terekspose. karena terjadi pada hajatan pernikahan, beliau dipaksa untuk bernyanyi, dan tidak enak untuk menolak. 


"Masa orang nyanyi harus pakai masker?, kalau seperti itu dipermasalahkan, betapa banyak orang yang harus disalahkan? Bagaimana dengan biduan-biduan dan musisi yang mengais nafkah dari dunia hiburan, apakah mereka semua dibatasi? Lagi pula saat hadir itu, walikota mengenakan masker, cuma videonya dipotong lalu digoreng-goreng untuk pembentukan opini negatif,"katanya pada media ini, Kamis (1/7/21).


Sambung Dia, Akan lebih penting mungkin jika akademisi mengambil bagian dan peran kritis untuk ikut menelaah beberapa kebijakan pemerintah daerah yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik dan percepatan pembangunan. Mengkritik dan bersikap kritis itu tidak sama, kalau mengkritik itu siapapun bisa, apalagi dengan modal paket data langsung umbar kalimat di media sosial. Kalau sikap kritis, tentu lahir dari konstruksi nalar akademis yang bersifat membangun, solutif dan terkomunikasikan dengan baik.


"Jangan sampai ada orang mengaku akademisi, tetapi justru cara bernarasi dan pola komunikasinya sangat buruk, dengan pemilihan diksi kalimat yang provokatif dan pejoratif,"sambungnya.


Iapun meyakini, Walikota Bima sangat terbuka dengan dialog yang menawarkan gagasan untuk kemajuan daerah, diskusi non formal di mana saja tanpa terikat dengan sistem keprotokolan yang kaku. Kalau akademisi menjadikan media sosial dan berkomentar personal tanpa menjunjung tinggi spirit almamaternya, itu bisa menjadi penanda bahwa ada yang tidak beres dengan iklim akademis dan intelektualitas kita di daerah.


"Kita ini kadang suka mengkritisi hal-hal yang tidak substantif, seperti kurang kerjaan saja, padahal masih banyak hal lain yang harus menjadi perhatian,"terangnya.


Lewat media ini dan mewakili pengurus dan anggota ISNU Kota Bima, Ia menghimbau serta mengajak semua pihak untuk mengakhiri polemik dan perdebatan yang tidak perlu. 


"saatnya kita fokus dan bersatu melawan pandemi ini, kalaupun walikota dianggap melanggar prokes Covid-19 kita ingatkan beliau secara baik-baik, tanpa harus menghujat dan menghakimi,"pungkasnya.


*TAROAINFO-01*


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Akademisi Sorot Walikota Langgar Prokes, Ketua ISNU: Kurang Kerjaan Saja

Terkini

Topik Populer

Iklan