Iklan


Iklan

Kunjungi Kampung Budaya Uma Lengge Wawo, Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP Bima

Editor
5/29/22, 18:17 WIB Last Updated 2022-05-29T10:25:25Z
Foto: Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP Bima Melakukan Studi Lapangan Ke Uma Lengge Di Desa Mari Wawo.



BIMA, TAROAINFO.com - Mahasiswa Semester II Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP Bima sebanyak empat kelas melakukan studi lapangan ke Uma Lengge di Desa Maria Wawo, Minggu, (29/4/2022)


Dosen Pembina Mata Kuliah, Mukhlis, SE., ME. dan Drs. Sanusin, M.Si, menyampaikan arahannya kepada mahasiswa untuk tetap menjaga sikap, tingkah laku, kebersihan di lokasi nanti. 


"Sebelum berangkat ke lokasi Mahasiswa berkumpul di Kampus STKIP Bima pukul 07.00 WITA untuk mendengarkan pengarahan langsung oleh Dosen Pembina Mata Kuliah Budaya dan Kearifan Lokal sekaligus Do’a," jelasnya.


Ia juga mengharapkan dalam mengikuti mata kuliah ini mahasiswa dapat memahami sekaligus mampu melestarikan budaya dan kearifan lokal Bima pada khususnya dan nasional pada umumnya.


Selain itu juga menjelaskan jika budaya dan kearifan lokal mampu kita lestarikan maka akan menjadi salah satu entri poin untuk pengembangan pariwisata, karena jika pariwisata maju dan berkembang maka sector-sektor ekonomi yang lain akan ikut bergerak, ungkap Mukhlis yang juga selaku Ketua Tim Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Kota Bima Tahun 2022. 


Kearifan lokal merupakan sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial, politik, budaya,ekonomi, serta lingkungan yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal. Ciri yang melekat dalam kearifan lokal adalah sifatnya yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya. 


Sebab kearifan lokal merupakan bagian dari masyarakat untuk bertahan hidup sesuai dengan kondisi lingkungan, sesuai dengan kebutuhan, dan kepercayaan yang telah berakar dan sulit untuk dihilangkan.


Uma Lengge merupakan bangunan tradisional suku Mbojo yang berada di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima. Bangunan yang mirip rumah ini sudah ada sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam. Walau terlihat sederhana, bangunan ini membutuhkan artistik yang unik dan harus ada keahlian khusus untuk membuatnya, semua bahan bangunannya berupa kayu dan bambu serta rumbia atau ilalang sebagai bahan atap dan dindingnya. 


Pada zaman dahulu, Uma Lengge digunakan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Wawo dan sebagian digunakan juga sebagai lumbung.


Uma Lengge umumnya menggunakan empat tiang yang menumpu pada fondasi berupa sebuah batu sebagai tumpuan tiang. Konstruksi bangunan ini agar tahan gempa dan angin kencang atau dalam arti lainnya tidak mudah runtuh. Seluruh bagian merupakan satu kesatuan yang diletakkan di atas batu begitu saja. 


Tiang atau dalam bahasa Bima nya Ri'i Uma berbentuk huruf A. Setiap Ri'i diberi Wole semacam pasak untuk mengunci tiangnya. Ukuran fondasi biasanya bervariasi, tergantung besar tiang penyangga bangunan, pada pemasangan fondasi, lansung diletakkan di permukaan tanah.


Dalam Bahasa Mbojo, uma berarti "rumah", dan lengge mengacu pada bentuk "tinggi dan mengerucut". Jadi, uma lengge adalah rumah yang (atapnya) tinggi mengerucut. Namun, orang Donggo melafalkan kata lengge sebagai leme. Maka orang Donggo menyebut lumbung sekaligus rumah yang ditempatinya itu sebagai uma leme. 


Bedanya, atap uma leme tampak lebih runcing daripada atap uma lengge. Lengge sendiri sebenarnya nama bahan utama dalam pembuatan rumah tradisional ini. Lengge berbahan kayu yang berukuran 40x40 cm, sebanyak empat buah yang diletakkan pada bagian atas tiang utama. 


Lengge tersebut berfungsi sebagai penopang bagian atas bagunan. Uma Lengge sangat sulit untuk dinaiki ataupun dipanjat begitu saja kecuali dengan menggunakan tangga. Yang menarik dari Uma Lengge yaitu tikus tidak dapat naik ke atas rumah karena terhalang oleh Ngapi, dan batu fondasi pun konon katanya dimantrai oleh para sando (Dukun) supaya tikus tidak bisa naik ke atas rumah.


Selain Uma Lengge, tradisi di Bima juga mengenal jompa, bangunan lain di pekarangan warga yang (umumnya) tinggal di rumah panggung, dan dikhususkan sebagai lumbung (bukan untuk tempat tinggal) penyimpan hasil panen dan bahan pangan. 


Oleh masyarakat tradisional sukum Mbojo, Jompa atau lumbung tidak hanya untuk menyimpan padi.


*RED*

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Kunjungi Kampung Budaya Uma Lengge Wawo, Ini Yang Dilakukan Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi STKIP Bima

Terkini

Topik Populer

Iklan